Jika pernah mendengar kalimat semacam ini “Ah teori, praktiknya kan nggak mudah!” atau “Saya tahu teorinya kok, tapi kenyataanya nggak segampang itu.”
Saya kok khawatir jika kalimat itu sering dimunculkan di sekitar kita. Kesannya akhirnya belajar di majlis ilmu itu tak berguna. Akhirnya semangat diri mulai belajar pun mulai memudar.
Saya sering mendapat banyak orangtua yang merasa bahwa ia tak memiliki banyak perkembangan setelah belajar parenting kesana kemari. Dan tahu nggak setelah saya wawancara panjang lebar, kesimpulannya adalah ternyata ada perbedaan orangtua yang belajar dengan yang tidak belajar. Mereka tidak seburuk yang mereka kira.
Mengapa ada orang yang kemudian merasa nasihat-nasihat pengasuhan atau teori parenting itu seperti tak berguna? Dari hasil konseling saya dengan banyak orangtua 18 tahun belakangan, penyebabnya kira-kira diantara salah satu dari daftar berikut ini :
Pertama, belajar teorinya tidak lengkap, alias belajarnya sepotong-sepotong.
Akses informasi yang melimpah di satu sisi memang menyediakan banyak ragam informasi termasuk soal parenting. Tapi di sisi lain, ketika informasi yang didapatkan sporadis, tidak terstruktur, tidak bertahap, tidak utuh, maka yang terjadi adalah KEBINGUNGAN. Maka tak heran jika metodenya begini, yang terjadi adalah makin banyak belajar parenting, malah makin tertekan jadi orangtua, bukan malah jadi makin percaya diri. Karena itu saya juga menyediakan kelas-kelas parenting yang bertahap, berkelanjutan antara satu dan yang lainnya berkaitan. Seperti PSPA yang dua hari full di level pertama. Ada PDA di level kedua dan KCR di level ketiga yang kira-kira masing-masing sesi belajar selama 10-12 jam full. Nggak cuma 2-3 jam. Nggak cukup? Disediakan tuh matapena, sesi konseling telepon buat yang mau belajar lengkap. Sayang, pandemi jahanam yang akhirnya membuat kelas-kelas lengkap itu berhenti. Semoga hanya untuk sementara.
Ibaratnya seseorang yang belajar ilmu komputer, tidak punya dasar-dasar matematika, algoritma, pemrograman, tiba-tiba langsung belajar artificial intelligent.
Dalam konteks parenting misalnya, ada orangtua yang berkata “Abah, saya padahal sudah belajar parenting, saya tahu teorinya tidak boleh bentak anak, tapi saya masih bentak anak. Saya nggak bisa nahan emosi saya kalau anak saya menjengkelkan.”
Nah orangtua ini di satu sisi merasa bersalah membentak anak karena dia sudah belajar bahwa membentak anak itu tidak boleh. Dia pun mungkin pernah mendengar bahwa saat membentak anak itu merugikan anak karena bisa merusak koneksi neuron anak. Tapi di sisi lain yang masih banyak belum dipelajari. Adakah cara lain agar anak patuh, tak bikin jengkel, tanpa harus dibentak? Umumnya yang baru dia pelajari selanjutnya saran-saran semacam ini : “Nasihati anak dengan lembut!” atau “Ingatkan anak dengan bahasa yang sudah dipahami mereka.”
Lalu dipraktikkanlah nasihat parenting itu, saat anak bikin jengkel anaknya segera dinasihati atau diberikan penjelasan lembut. Eh tahunya apa yang terjadi kemudian? Anaknya tak mau mendengarkan, malah tambah teriak, tambah ngamuk, tambah merusak barang-barang. Gimana dong? Saat frustasi melanda itulah akhirnya dia berkata “Ah ilmu parenting teori semua!”
Padahal yang terjadi adalah yang dia pelajari tidak utuh, tidak semuanya. Memberi nasihat anak itu memang baik. Tapi benarkah jalan satu-satunya hanya dengan memberi nasihat untuk membuat anak tidak menjengkelkan? Apakah anak-anak bermasalah di dunia ini kurang nasihat?
Saya justru sering mengatakan bahwa nasihat itu awalnya baik tapi jika ditempatkan di tempat, waktu dan cara yang salah, nasihat itu bahkan makin menjauhkan anak dari orangtuanya. Alih-alih memberi nasihat, saat berperilaku berlebihan (menjengkelkan) saya justru menyarankan banyak orangtua jangan banyak bicara tapi banyak bertindak. Makin banyak bicara, makin banyak emosi. Makin banyak emosi, makin banyak frustasi.
Gimana tindakannya? Tuh kan mulai pengen tahu? Makannya belajarnya jangan comot sana-sini doang di internet. Ikuti kelas-kelas komprehensif, datangi pelatihan, datang kajian, lalu banyak bertanya. Di sini tidak akan dibahas karena memang tema tulisan ini dibuat tujuannya, agar kita tak luntur semangat belajar, saat merasa terbentur tembok.
Tak sedikit orang yang memahami, bahwa seolah teori itu berlawanan dan berjauhan dengan realitas. Padahal teori itu lahir dari mana sih? Dari praktik sebuah realitas, abstraksi realitas. Jika sebuah teori tidak sesuai fenomena terkini, pasti akan dibantah oleh teori lain yang terkini.
Kedua, kurang latihan dan jam terbang.
Apakah seseorang yang baru belajar nyetir mobil 5-10x pertemuan langsung lancar jaya mengendarai sebuah kendaraan di jalan raya? Tentu tidak bukan. Karena itu saya meyakini, tidak ada satu pun metode belajar yang mampu membuat seseorang langsung terampil seketika tanpa ada latihan berulang. Ah ini rasanya tak usah dipanjangin penjelasannya. Dengan contoh nyetir mobil saja rasanya sudah cukup.
Ketiga, targetnya ketinggian atau berlebihan.
“Abah gimana caranya supaya anak saya berhenti berantem?”
“Abah gimana ya kok saya masih marah pada anak terus, gimana biar saya nggak marahin anak saya lagi, kok saya merasa bersalah jadinya?”
Nah itu beberapa contoh yang bagi saya salah faham soal-soal pengasuhan dimana sebagian orangtua, menargetkan diri mereka untuk berperilaku di level yang ketinggian bahkan mustahil. Seperti contoh pertama “menghilangkan berantem” pada dua anaknya, bagi saya ini tidak mungkin. Sepanjang ada interaksi ya pasti ada gesekan, ada konflik. Targetnya kan harusnya bukan menghilangkan konflik sama sekali tapi bagaimana agar anak dapat mengelola konflik. Agar saat konflik mereka tidak saling menyakiti dan faham bagaimana kendari solusinya. Jika ini mampu dikelola, normalnya, makin besar anak makin berkurang berantemnya dan berubah menjadi makin banyak kerjasamanya.
Atau contoh kedua, ada kan orangtua yang seolah marah pada anak itu dianggap salah. Saya justru mengatakan jika ada orangtua yang tidak pernah marah berarti bukan manusia, tapi makhluk halus.
Apa maksudnya makhluk halus? Manusia punya emosi kan? Punya kan? Nah marah adalah salah satu bentuk ekspresi emosi itu. Jadi kalau manusia tak pernah marah sepanjang hidupnya, jangan-jangan tak punya emosi. Sedangkan yang tak punya emosi itu seingat saya hanya dari kalangan malaikat, golongan makhluk ghaib alias makhluk halus.
Adapun yang dimaksud LAA TAGHDOB WALAKAL JANNAH, yang saya fahami dari pendapat para ulama bukanlah berarti tak boleh marah sama sekali, tapi pengingat buat kita jika marah yang disampaikan cara berlebihan membuat kita cenderung melakukan perbuatan yang dampaknya sangat merugikan, seperti menyakiti hati orang, menyakiti tubuh dan kedzaliman lainnya. Kemarahan jenis ini sering menimbulkan perkara-perkara negatif, berupa perkataan maupun perbuatan yang haram.
Syaikh Muhammad Nadhim Sulthan berkata, “Kemarahan tercela adalah kemarahan pada selain al-haq, tetapi mengikuti hawa nafsu, dan seorang hamba yang melewati batas dengan perkataannya, dengan mencela, menuduh, dan menyakiti saudara-saudaranya dengan kalimat-kalimat menyakitkan. Sebagaimana dia melewati batas dalam kemarahannya dengan perbuatannya, lalu memukul dan merusak harta-benda orang lain.” (Qawaid Wal Fawaid Minal Arba’in Nawawiyah, hal. 147)
Sebaliknya, marah juga boleh jadi wajib dalam konteks tertentu dan bernilai ibadah loh. Apakah normal kita marah saat melihat seorang kakak 15 tahun memukuli adik 10 tahun? Normal banget. Justru tidak normal malah bahagia dan gembira saat kita melihatnya yang demikian.
Disebutkan dalam Qawaid wal Fawaid di halaman yang sama, ada loh marah yang terpuji. Seperti apa? Marah yang terpuji adalah kemarahan karena Allah, karena al-haq, dan untuk membela agamaNya. Khususnya ketika perkara-perkara yang diharamkan Allah dilanggar.
Jadi merasa marah itu normal. Marah itu jadi ibadah atau jadi dosa bergantung bagaimana cara kita menyalurkanya.
Jadi guys, boleh-boleh saja ya marah pada anak jika diekspresikan dengan yang benar. Orangtua yang tidak pernah bentak anak, tidak pernah mukul anak, saya kira banyak di dunia ini. Tapi orangtua yang tak pernah MERASA marah sama sekali, adakah? Saya kira tidak ada. Hanya merasa loh ya.. boleh lah. Bukan membentak atau memukul. Di dunia ini, rasanya sosok orangtua “sempurna” yang tidak pernah marah mungkin hanya ada pada sosoknya orangtuanya NUSA RARA. Karena dia animasi guys…bukan di dunia nyata. wkwk
Keempat, belajar sekali-kali tidak berkali-kali.
Setiap usia anak pastilah memberikan soal dan tantangan yang berbeda. Anak balita ada ujiannya. Anak SD ada ujiannya. Begitu juga anak kita yang sudah usia renta dan menjelang nikah. Semua ada tantangan-tantangannya.
Kita sering mendengar kalimat “Anak saya tuh menguji banget”. “Udah tahu ada ujian, kenapa nggak pake persiapan? Kenapa nggak pake belajar menghadapi ujian?”
“Apalagi ujiannya bekali-kali pula, kenapa belajarnya cuma sekali? Saya sudah ikut kelas parenting 10 tahun lalu. Tapi kok makin kesini kayak makin nguap ya ilmu saya? Aduh saya jadi pengen makan cireng rujak pedes deh!” Apakah perkembangan otak dan emosi ini masih sama dengan 10 tahun yang lalu? Tentunya beda kan? Perilaku anak berubah, lingkungan berubah, usia anak sudah leval 10 masih mengandalkan pelajaran level 1, ya gak masuk Pak Eko!
Kelima, tidak bergabung dengan komunitas belajar.
Rasanya poin ini harus banyak belajar dari para kluber mobil. Ya tidak berarti harus ikut ya. Saya hanya mencari “pelajarannya”. Di klub-klub itu kan sering tuh sharing informasi soal perbaikan mobil, spare part, tempat modifikasi dan lainnya. Jadi ada semacam support sistem tuh.
Alumni-alumni pelatihan saya sendiri, karenanya mereka berhimpun dalam sebuah komunitas yang disebut YUKJOS COMMUNITY, yukjos kepanjangan dari yuk jadi orangtua shalih. Kenapa komunitas penting? Agar saat praktik mengalami kesulitan dapat saling menguatkan. Agar saat turun motivasi dapat disuntik energi kembali.
Komunitas itu adalah tempat pergaulan penting. Orang baik salah gaul, boleh berubah jadi buruk kembali dan sebaliknya. Bayangkan seorang yang mungkin bandel di masa lalunya, berada di lingkungan pergaulan yang sering ngaji, saling mendorong ibadah, boleh jadi lama-kelamaan dia akhirnya “berhijrah” juga. Sebaliknya di masa lalu kita boleh mengaku anak pesantren, ilmu agama hebat, rajib ibadah, lalu terlalu sering bergaul di tempat yang buruk, lama-lama? Boro-boro kita mewarnai orang yang buruk dengan kebaikan, yang ada malah kita yang diwarnai.
Keenam, ingin hasil instan.
Di zaman di mana informasi beredar dengan sangat cepat dan teknologi yang memberikan banyak kemudahan pada manusia, membuat sebagian orang akhirnya terdorong untuk melakukan banyak hal serba ingin instan dan cepat hasilnya.
Sayangnya, anak kita bukanlah benda mati yang tidak punya hati dan emosi. Karena itu dari puluhan tahun yang lalu, upaya meloncatkan anak-anak berbakat agar menjadi manusia yang meloncat hasil prestasinya (akselerasi) sering berujung pada kepedihan di akhir kehidupannya. Secara akademik mereka memang terbukti cerdas, tapi ingat, pekembangan emosi manusia tidak bisa dipercepat.
Ini juga merembet pada banyak hal lainnya: ingin kaya cepat, ingin dapat uang cepat, ingin berhasil cepat, ingin untung cepat, ingin terkenal cepat dan seterusnya. Padahal sejarah membuktikan orang yang bertumbuh dengan bertahaplah yang akan bertahan lebih lama. Karena untuk naik dari satu tangga ke tangga lainnya butuh pondasi yang kuat. Kenyataannya memang banyak orang cepat kaya, tapi ujungnya? Cepat jatuh pula. Terlalu banyak kejadian semacam Mike Tyson dapat kita jadi pelajaran. Seorang Mike Tyson yang pernah jadi gembel, lalu karena prestasinya menyebabkan ia tak siap menghadapi uang jutaan dolar yang berhasil ia dapatkan. Setelah lagi menghasilkan, meninggalkan banyak sekali hutang pada akhirnya.
Dalam dunia investasi saham, terlalu banyak orang yang menganggap saham itu judi, spekulasi karena mereka tak memahami ilmunya. Mereka juga ingin kaya cepat. Padahal faktor perusahaan bagus, beli di harga yang bagus tidak menjadi berarti apa-apa jika tidak ada komponen yang ketiga: berikan waktu yang cukup untuk perusahaan bertumbuh alias sabar dengan waktu. Karena itu Warren Buffet, yang sering jadi rujukan para investor di dunia ini saat ditanya "jika investasi saham itu mudah seperti yang Anda ucapkan kenapa tidak banyak orang seperti Anda?" Tahu apa jawaban Opa Warren? "Karena tidak banyak orang yang mau kaya dengan cara lambat seperti saya."
Itu ngomongin investasi saham ya, apalagi soal investasi pendidikan yang lebih 'abstrak' kelihatan hasilnya. Pendidikan adalah investasi jangka panjang, ia bagaikan lari marathon bukan lari sprint. Maka jika tak bersabar banyak orang yang bertumbangan di tengah jalan. Tak sedikit anak mengumpulkan banyak piala sejak kecil, dielu-elukan sejak kecil, menjadi kebanggaan sejak kecil, tapi ketika tidak melewati tahapan dengan benar, ia ngos-ngosan bahkan pingsan di tengah jalan. Baru 5 km sudah sprint, padahal masih ada puluhan kilometer lagi yang harus ditempuh untuk menyelesaikan marathon.
Sebagian orangtua ingin anaknya cepat memperlihatkan hasil dari belajarnya tapi lupa memeriksa prosesnya. Ingin cepat hafal quran, tapi melewati tahapan penanaman iman. Terampil dan cakap dengan banyak pengetahuan tapi lupa mengajarkan adab. Bersemangat mengejar prestasi, piala, juara, tapi lupa mendidik akhlak. Sejak dini mengajarkan entrepreneurship tapi lupa mengajarkan leadership.
Demikian juga, saat sebagian orangtua sudah bersedia belajar parenting, sayangnya sebagian mereka menuntut diri mereka dapat menjadikan anak-anak mereka berperilaku shalih, patuh, mandiri, dengan cepat. Apa lagi misalnya anak sudah terlanjur maaf "berperengai buruk" bertahun-tahun. Dirusaknya bertahun-tahun kok ingin anaknya baik setahun. Doh...
Ketujuh, tidak benar-benar menyerap ilmu saat berada di majlis ilmu.
Boleh jadi diantara tujuh penyebab, yang terakhir inilah yang mungkin paling banyak terjadi. Ia memang benar rajin dan sering hadir di majlis ilmu, kajian atau seminar tapi hanya tubuhnya yang dihadirkan.
Akhirnya, ratusan kali seminar, training, dauroh, kajian, ta'lim sepertinya bakal sulit merubah perilaku kita jika saat hadir di majlis ilmu itu hati kita tidak benar-benar dihadirkan. Jadi tubuhnya hadir di majlis itu, tapi hatinya tidak. Bagaimana mungkin hati ini dapat menyerap kebaikan sementaranya hatinya sendiri tidak dibuka? Bahasa agamanya, ilmunya tidak memancarkan al-birkah, tidak menghasilkan keberkahan.
Tertutup dengan apa sih? Dengan ego, takabur dan kesombongan. Seperti disebutkan di salah satu "surat pendidikan" Luqman 31:7: "Apabila dibacakan ayat-ayat kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri..." Wujudnya? Tubuhnya ada di majlis ilmu, tapi mata dan telinganya fokus main hape. Tubuhnya ada di majlis ilmu, tapi pikirannya dari awal sudah ditutup rapat-rapat sehingga sepanjang jalan kajian terus melakukan penolakan-penolakan.
Kita berharap kita semua dihindarkan 7 sebab kesia-siaan belajar seperti disebutkan. Jika kita bisa melewatinya, selama belasan tahun mendampingi orangtua belajar, saya menyimpulkan insya Allah selalu ada perbedaan orangtua yang belajar dengan yang tidak. Mungkin kita belum merasa ada hasil sekarang, tapi yuk cek tahun-tahun ke depan.
Setidaknya saat saya wawancara lebih mendalam dan mengorek sebagian orangtua yang merasa "gagal" belajar, tapi setelah saya mengatakan “Coba jangan bandingkan diri kita dengan target kita, bandingkan diri kita dengan masa lalu kita, bandingkan anak-anak kita nanti 5-10 tahun lagi dengan anak-anak lain yang orangtuanya tak pernah belajar, apakah ada perbedaan?"
"Jauh Abah, jauh banget. Saya tidak bermaksud meninggikan anak saya dan merendahkan sepupunya. Nggak usah nunggu 10 tahun, 1-2 tahun saja kelihatan hasilnya kok. Anak-anak saya lebih teratur, nggak ada yang kecanduan gadget, nggak ada yang bentak-bentak orangtua. Tapi ya Allah lihat sepupunya... ngeri sekali." kata seorang Ayah di Semarang.
"Abah, banyak tetangga saya komentar “Enak banget ya jadi ibunya Rafi, Naura, anak-anaknya baik-baik, sopan-sopan, nurut.” Ih padahal ya Allah mereka nggak tau prosesnya itu. Dalam hati, saya fikir ada bedanya juga ya perilaku anak saya." kata seorang ibu di tempat lain.