"Abah, melibatkan anak dalam pekerjaan rumah itu kan bagus ya. Anak dilatih soal tanggung jawab, empati dan lainnya. Tapi saat saya mau mempraktikkan, duh anak saya SD ngomong gini waktu di rumah neneknya: “Aku kok jadi disuruh kerja paksa!” ya Allah padahal tugasnya cuma ambil jemuran Abah. .
Malah yang SMP bilang “Aku dijadikan Babu sama Ibu”, gitu lapor anak saya sama Neneknya.
Parents yuk ajak anak dialog dengan logika yang sebetulnya tinggal pake saja tuh ucapan mereka. Jangan kalah vocab ya sama anak. Anak cerdas, ya kita harus juga cerdas dong. Misalnya kalimat berikut dapat dipakai sebagai alternatif:
"Jadi Nak, Ibu selama ini ngurus rumah, masak, ngurus cucian dan lain-lainnya, berarti Ibu itu Babu kalian gitu? Maaf ya, kalau ibu harus capek sendirian keluarga dan rumah ini dan kalian nggak punya tugas sama sekali, Ibu nggak mau lah.
Jika ada anggota keluarga ini, tinggal di rumah ini dan terlibat ikut ngurus rumah sendiri itu namanya TANGGUNG JAWAB.
Jika ada anggota keluarga ini, ada yang tinggal di rumah ini, tapi nggak ada kontribusi urus kerjaan rumah, mau enaknya doang, padahal bukan orang yang sudah udzur, bukan orang yang sakit, bukan bayi lagi, namanya TUKANG PALAK.
Jika ada yang tinggal di rumah ini dan mau terlibat ngurus rumah tapi setiap ngurus rumah minta bayaran dan imbalan, namanya ASISTEN RUMAH TANGGA.
Nah, sekarang kalian milih yang mana? Semua ada konsekuensinya.
Kalau milih nomor 1, ok kita kerjasama. Kalian masih boleh dianggap anggota keluarga.
Kalau milih nomor 2, ok kalian akan diusir. Karena orangtua tak sudi dijadikan babu oleh anak-anaknya.
Kalau milih nomor 3, kalian dipecat sekarang juga, karena kami nggak butuh pembantu."
Jadi jangan pernah mengatakan anak "bantuin orangtua dong" saat mereka dikasih tugas CHORES. Karena apa? loh itu memang tugas mereka . Jika mereka ikut terlibat ngurus rumah, bukan bantuan dong namanya, tapi memang sudah kewajiban mengurus rumah sama-sama karena tinggal dan menikmati juga bersama-sama.
Melibatkan anak dalam pekerjaan rumah tentu saja ada banyak manfaatnya. Tapi saat mempraktikannya tidak ujug-ujug dong, tidak tiba-tiba dan tidak mendadak. Mendidik anak itu butuh tahapannya, tidak asal mendadak.
Jauh sebelum anak diberikan tugas, peran, tanggung jawab atau apapun itu namanya, tentu saja anak harus difahamkan soal "identitas dirinya". Anak itu apa sih? Siapa sih dia? Perannya apa? Hak-haknya apa saja? Lalu kewajibannya apa? Lalu orangtua itu siapa? Tanggung jawabnya pada anak apa dan hak-haknya apa?
Tak sedikit orangtua saat marah pada anak yang kesulitan untuk meminta keterlibatan anaknya dalam urusan rumah berkata "Kamu jadi anak harus tahu dong tanggung jawab kamu."
Sudah pernah belum dijelaskan secara detail hak-hak dan tanggung jawabnya sesuai undang-undang atau nilai-nilai agama masing-masing? Jika belum, hanya sekilas dan selintas, bagaimana anak paham "posisi" dirinya kan?
Jika identitas diri ini tidak difahamkan dengan benar, maka hasilnya cuma dua kemungkinan, anak-anak yang terus menyusahkan orangtuanya sampai dewasa. Seolah orangtua harus urus mereka itu sampe mati. Atau kedua, orangtua yang berpeluang sewenang-wenang pada anak, yang berhak mengatur hidup anak selamanya bahkan sampe mereka menikah dan berumah tangga.
Merasa bahwa anaknya adalah properti mereka, milik mereka. Padahal anak-anak kita sungguh bukan milik kita, ia milik Allah Penguasa Semesta. -abaihsan-