Anak kita mandiri? Tentu saja harus didukung, seperti contoh tulisan berikut
"Anak saya 14 tahun kelas 9 di pondok, baru 1 tahun ini saya menikah lagi, selama 7 tahun sebelum menikah dia adalah saksi hidup saya berjuang sendiri dengan 3 anak, adiknya umur 10 dan 9 tahun..mantan suami ghoib entah kemana.
Jadi kelas 10 nanti dia minta keluar dari pondok, sekolah SMK karena pingin jadi IT. Terakhir kemarin dia kirim surat katanya dia mau belajar crypto untuk mengganti uang saya, mau mandiri katanya.
Apa yang harus saya lakukan Abah? Anak ini punya pemikiran seperti itu apakah baik ?"
Mulia bukan, niat anak untuk mandiri? Akan tetapi ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan dan mungkin dapat menjadi bahan diskusi dan tukar pikiran dengan anak.
Pertama, kemandirian itu hakikatnya bukan untuk sekadar bisa "lepas dari orangtua" apalagi sekadar mampu menghasilkan uang sendiri. Kemandirian sebenarnya adalah agar kita menjadi manusia yang lebih “Survive" tidak tergantung orang lain untuk menjadi baik.
Kedua, survive artinya bukan hanya bertahan dapat makan dan minum, tapi yang paling penting adalah survive dengan kebaikan dan tetap menjadi manusia baik.
Ketika seseorang mandiri pada dasarnya dia sudah mendapatkan salah satu titik pencapaian dalam hidup. Kemandirian adalah satu bentuk prestasi dari seorang anak ketika mencapai hidup dewasa.
Ketiga, sesungguhnya ada yang lebih dahulu dibentuk sebelum prestasi, yaitu karakter. Karakter mana? Karakter bertanggung jawab.
Karakter (akhlak) sebelum prestasi itu harus benar-benar dipegang teguh. Adalah berbahaya anak-anak yang berprestasi, pintar, mandiri, mampu menghasilkan uang sendiri tanpa disertai dengan karakter.
Sungguh mengerikan jika jalan kemandirian hanya jadi alat anak untuk dapat lepas dari orangtua, lalu merasa memiliki kebebasan melakukan apapun semaunya. Bayangkan apa yang terjadi jika "kebebasan" itu sudah didapatkan anak tapi tanpa disertai dengan landasan tanggung jawab?
"Ini kan uang-uang aku sendiri dari hasil jerih payahku sendiri. Terserah aku dong dipake apa. Ayah Ibu tidak berhak mengatur aku. Mau beli HP mahal kek, beli games kek, beli rokok kek.", demikian kalimat ini akan sering kita dengar. Mereka merasa berhak melakukan apapun asal pake uang yang mereka hasilkan sendiri, meski masih tinggal di rumah orangtua, meski sebagian biaya hidup masih menjadi tanggungan orangtua.
Maka di sekitar kita, beberapa anak yang mandiri ini (jika dilihat hanya dari aspek finansial), benar mereka mampu punya uang sendiri dari hasil main games, youtuber, nyanyi, dan lain-lain, tapi apa yang terjadi setelah mereka merasa dapat uang sendiri?
Motivasi untuk sekolah, belajar, mempersiapkan kematangan mental menjadi kendur. Kata mereka “Buat apa gue sekolah tinggi-tinggi kalo gue sekarang sudah bisa menghasilkan uang sendiri."
Keempat, sesungguhnya tidak ada satu pun kesuksesan di berbagai bidang apapun: bisnis, finansial, pendidikan, apalagi sukses dalam soal akhirat, yang tidak dibayar melalui proses panjang penuh lika-liku dan mungkin penderitaan.
Tidak ada satupun orang-orang yang sukses dalam bisnis misalnya yang tidak melewati peristiwa-peristiwa semacam: ditipu orang, difitnah, tekanan dari berbagai macam urusan, diremehkan dan seterusnya. Jika ada anak kemarin sore lalu memamerkan kekayaan di media sosial, pastilah umumnya tujuan mereka sekadar flexing. Agar orang lain dapat "terjerat" dan mengikuti perangkap bisnis mereka.
Jadi, tidak ada yang namanya kesuksesan instan. Tidak ada pula yang namanya menjadi orang kaya instan. Termasuk tidak ada yang namanya kemandirian instan, anak sudah menghasilkan uang sendiri pasti mandiri? Benarkah?
Jika ada orang yang kaya dengan cepat, tanpa membentuk pondasi yang kukuh, pastilah yang terjadi: cepat kaya cepat miskin. Atlit, selebritas, penjudi, pemenang lotre, pemenang dana gusuran, atau semacam ini, saat mereka mendapatkan "dana" tiba-tiba, ketika mereka tidak siap, yang terjadi puluhan tahun kemudian? Harta mereka habis tak tersisa. Maka ada istilah "dari gembel kembali menjadi gembel."
Sayangnya, tak semua anak-anak muda memahami ini. Akibat mereka "tergiur" kabar berita orang-orang flexing yang sukses dari sebuah tema "investasi", berbondong-bondonglah anak-anak yang pengen cepat kaya ini mengikutinya. Padahal sekali lagi, tidak ada pohon yang ditanam besok langsung berbuah.
Kalaupun mereka benar-benar berhasil, untuk apakah sebagian besar uang yang mereka raih itu dipergunakan jika mereka tidak memiliki karakter kedewasaan? Bersenang-senang, bersenang-senang dan bersenang-senang.
Jika mereka tidak memiliki karakter yang kuat, maka mungkin saja mereka jadi korban berikutnya dari istilah: Cepat terkenal, cepat pula tenggelam. Cepat kaya, cepat sengsara. Maka bagi orangtua yang memahami ini, mereka tidak akan buru-buru membiarkan anak "berprestasi" tanpa memastikan bahwa mereka adalah orang yang "berakhlak". Mereka tak akan serampangan membiarkan anaknya "mencari uang sendiri" demi membuat anaknya "tidak membebani orangtua", tanpa disertai kematangan mental.
Jadi sebelum dibiarkan anak memiliki kemandirian finansial, ada banyak dimensi kemandirian lain yang harus kita siapkan: kemandirian tanggung jawab, kemandirian peran di keluarga, kemandirian ibadah, kemandirian belajar, kemandirian akhlak dan seterusnya.