Siapa di sini yang sudah punya anak dan tak pernah melihat anak berantem? Hehe.kayaknya nggak ada ya?
Yang sudah punya anak lebih dari satu pasti pernah merasakan rasanya betapa tiada hari tanpa berantem. Ada saja yang memicu mereka berantem kan. Mulai dari rebutan makanan, rebutan kursi, rebutan buku, berselisih soal mainan, berantem soal tempat duduk di restoran, tempat duduk di kendaraan dan bahkan debat soal tayangan film yang sudah mereka lihat, yang awalnya hanya saling bercerita menjadi saling menyalahkan.
Berantem, meski tidak disukai orangtua tapi sebetulnya bermanfaat loh untuk anak. Bahkan andaikan semua berantem itu tidak baik menurut orangtua, tapi sebetulnya ujian anak berantem itu jauh lebih kecil dibandingkan anak tidak pernah berantem tapi saling tidak menyapa.
Lah kok begitu?
Seorang ibu di sebuah daerah di Kalimantan Selatan suatu hari pernah bercerita pada saya: "abah gimana caranya ya supaya anak saya mau saling berbicara lagi. Anak saya perempuan, dua, yang satu usia 16 tahun dan satu lagi 14 tahun, itu udah 2 tahun itu sama sekali nggak mau saling berbicara. Mereka gak pernah terlihat adu argumen, adu mulut atau berantem, tapi mereka sama sekali tak mau saling berbicara. Segala cara saya lakukan agar mereka mau saling berbicara lagi. Tapi percuma. Sepertinya merka sudah saling membenci satu sama lain. "
Mengerikan bukan jika kejadian ini menimpa anak kita.
Jadi apa sih manfaat berantem untuk anak?
Pertama, melatih menghadapi konflik di masa depan.
Berantem itu bahasa pasarnya ya. Bahasa pendidikannya adalah konflik. Berantem atau konflik ini bentuk bisa macam-macam, ada yang hanya berbeda pendapat, rebutan barang/makanan/mainan, hingga ada yang melibatkan fisik.
Adakah anak yang tak pernah konflik?
Semua anak akan mengalaminya. Sehebat apapun orangtua mendidik anak, orangtua tidak bisa menghindarkan anaknya dari konflik. Konflik bagi orang dewasa tidaklah terlalu baik, tapi bagi anak boleh jadi ini adalah kebutuhan untuk belajar menghadapi konflik di masa depan.
Kita tahu dalam kehidupan nyata setelah dewasa, tidak ada satu manusia pun setelah dewasa yang bebas dari konflik. Dimana ada interaksi di sanalah selalu ada potensi konflik. Dimana ada hubungan antar manusia di sanalah ada potensi konflik. Mulai hubungan suami istri, orangtua dengan anak. Antar karyawan. Antara pemilik usaha dengan pekerja dan seterusnya.
Setiap manusia punya perbedaan satu dengan yang lainnya. Sepanjang manusia memiliki perbedaan tujuan dan cara mewujudkan tujuan itu. Sepanjang itulah manusia akan sering beririsan dengan konflik.
yang membuat kita pusing saat konflik kan sebetulnya bukan karena perbedaannya itu sendiri, tapi bagaimana menghormati perbedaan dan dalam titik tertentu mencari titik temu cara agar perbedaan tidak berujung saling merugikan dan menyakiti.
Jadi, Ayah Bunda, saat anak berantem, jadikanlah kejadian ini adalah bagian untuk anak belajar mengelola perbedaan untuk menghadapi konflik di masa depan.
Kedua, konflik iitu mendekatkan.
Setiap adik-kakak pasti akan bertengkar atau berantem. Bahkan adik-kakak 700 persen kali lebih sering bertengkar ketimbang dengan teman sebayanya masing-masing.
Bahkan menurut beberapa studi yang saya baca, adik-kakak yang bermain bersama, meski saling mengejek, memiliki hubungan yang lebih dekat ketimbang adik-kakak yang bermain terpisah. Istilahnya Adik-kakak lebih baik berisik karena bertengkar ketimbang damai tapi berpisah. Berpisah dalam artian saling tak mau menyapa dan bergaul karena satu membenci yang lain.
Jadi ketika mereka konflik berarti pada dasarnya ada interaksi yang intens yang sudah terjadi diantara mereka. Artinya, jika anak Anda tidak mau pernah berantem sama sekali, ya jauhkan satu sama lain. Karena tidak ada interaksi, tidak ada hubungan, ya tidak mungkin ada konflik kan?
Jadi pilih mana hayo? Berantem sebentar lalu damai atau gak pernah berantem tapi gak saling berhubungan?
Ketiga, belajar menemukan solusi atas perbedaan.
Konflik pada anak awalnya adalah baik loh. Konflik berubah menjadi tidak baik saat orangtua tidak mengelola konflik anak dengan baik. Apalagi jika saat konflik, orangtua yang selalu menyelesaikan masalah.
Akhirnya, anak tidak belajar apapun dari pengalaman konflik yang mereka alami. Saat misalnya seorang adik rebutan mainan dengan kakaknya, sebagian orangtua menyelesaikannya dengan mengatakan pada si kakak “Kakak, ngalah dong sama adik! Adik kan masih kecil....”
Ayah, Bunda, jika penyelesaiannya seperti itu, lihatlah ternyata bukan hanya kita tak melatih anak menghadapi konflik, tapi justru kita melebarkan konflik pada anak. Lihatlah, ternyata praktik ketidakadillan juga dapat dimulai dari rumah bukan?
Mengapa seorang kakak harus selalu mengalah pada adik? Adikknya masih lemah, begitu alasannya? Tapi, sampai umur berapa adik masih terus dibela? Mengapa kebenaran ditentukan oleh usia? Mengapa jika kakak membuat adik kecewa, dihukum? Mengapa jika adik yang melakukannya, adik tidak dihukum?
Saat dua orang anak rebutan satu buah roti misalnya, sebagian orangtua menyelesaikannya dengan jalan instan dengan cara membagi roti itu jadi dua untuk anaknya “yang ini buat kakak yang itu buat adik”. Lihatlah praktik ini? Anak memang berhenti dari konflik. (itu pun sementara loh ya), tapi siapa yang menyelesaikan masalahnya? Orangtua bukan? Mengapakah bukan anak yang dilatih untuk menyelesaikan masalahnya sendiri?
Atau solusi lain yang sering dilakukan orangtua adalah selalu membelikan yang sama untuk semua anak, supaya tak rebutan! Jika anaknya dua, maka kuenya selalu dua dengan rasa yang sama. Jika anaknya laki-laki dua-duanya, maka saat beli mainan mobil-mobilan, dibelilah mobil dengan model yang sama.
Jika solusinya seperti ini, sepintas ayah ibu melihat ini sebagai solusi. Tapi sebetulnya secara jangka panjang, efeknya anak jadi sulit menemukan identitas diri, karena dia bingung membedakan antara dirinya dengan saudara kandungnya.
Jadi gimana dong?
Saat anak terlibat konflik dengan saudaranya, sah-sah saja Anda terlibat. Tetapi, sebaik-baiknya penyelesaian adalah yang melibatkan anak itu sendiri. Jika mungkin, orangtua hanya jadi fasilitator yang bertugas untuk membimbing anak untuk mencari solusi atas permasalahan yang mereka hadapi. Saat anak dilatih untuk menyelesaikan sendiri masalah yang ia hadapi, sejak saat itulah anak-anak memiliki modal untuk menghadapi masalah-masalah yang lebih kompleks di masa depan.
Saat anak terlibat adu mulut mengenai siapa yang berhak untuk duduk di kursi depan mobil misalnya, padahal kursi depan mobil dekat supir itu hanya tersedia untuk satu orang, tak usah terburu-buru menghentikkan konflik anak dengan kalimat-kalimat solutif dari Anda: “sudah kalau tak ada yang mau ngalah, nggak usah ada yang ikut!” atau lagi-lagi dengan kalimat kuno “kakak, ngalah dong sama adik!”. Tapi mari kita kembangkan kalimat-kalimat yang membuat pikiran dan ide anak terlibat “kursi di depan hanya satu, gimana caranya biar semua kebagian, ayoo siapa yang mau kasih ide ka ayah?!” Jika anak berkeras dan bertegang untuk tetap ribut barulah kita bisa beri penekanan dengan kalimat “kalian harus putuskan dulu siapa yang di depan karena jika tidak kita belum bisa berangkat!” atau kalimat-kalimat lain yang senada.
Jika anak rebutan sepotong roti padahal rotinya hanya satu, maka Anda dapat katakan pada mereka “Rotinya cuma satu, ayoo cari ide, bagaimana agar semuanya kebagian!” inilah metode yang melibatkan anak (otoritatif). Sedangkan metode lainnya adalah metode yang mengedepankan kekuasaan (otoriter) orangtua untuk menyelesaikan masalah anak “Rotinya cuma satu, sini mama bagi... ini buat adik dan ini buat kakak” atau yang lebih parah “Kalau kalian tak mau berbagi, sini rotinya mama makan!”
Metode otoritatif memerlukan sedikit waktu dari Anda untuk bersabar memberi kesempatan anak menyelesaikan masalah, tetapi secara jangka panjang memudahkan orangtua sendiri karena tidak harus selalu mengatur dan menyelesaikan semua masalah anak. Sedangkan metode otoriter mungkin dapat menyelesaikan konflik anak lebih cepat tetapi secara jangka panjang justru menumpulkan kekuatan pikiran anak dan akhirnya merepotkan orangtua sendiri karena orangtua harus selalu yang menyelesaikan terlalu banyak masalah anak yang bahkan pada hal sepele sekalipun.
Saat Anda memiliki dua anak, tidak harus dibelikan mainan dengan model yang sama atau makanan dengan rasa yang sama, biarkan anak memilih sesuai dengan selera mereka sendiri sepanjang dalam batas budget orangtua dan toleransi orangtua. Yang terbaik, kalau mau membelikan dua barang, biarlah anak masing-masing memilih yang dia sukai. Contohnya, kalau mau beli kaus, si kakak mau beli kaus biru, maka adik boleh cari warna lain, jika sama boleh-boleh saja, tetapi kalau bisa berbeda dari kakak. Kalau beli mainan, mungkin si adik memilih bola, sementara kakak diminta cari mainan yang berbeda.
Nah itulah beberapa manfaat konflik atau berantem untuk anak. Asal kita mampu mengelola berantem anak menjadi ajang belajar anak mengelola perbedaan. Di tulisan lain mungkin nanti kita bahas lagi soal bagaimana sih cara mengelola berantem agar tidak membuat kita orangtua tambah stress.