Biasanya momen lebaran jika kumpul dengan keluarga besar, saya kadang memerhatikan bagaimana dari tahun ke tahun perilaku anak-anak dari keluarga besar terus berubah. Jika mau teliti sedikit, hasil "klasemen sementara" pengasuhan setiap keluarga bakal terlihat.
Kenapa disebut "sementara"? Ya karena baru sesuai perkembangam "now". Tidak tahu kan ke depannya. Ingat, pengasuhan itu sendiri lari marathon, bukan lari sprint. Hasil "sementara" sangat dapat berubah. Mungkin dapat terus "qoma", tegak berdiri kebaikannya sehingga disebut isti-qoma-h atau malah berubah mundur jadi makin mekhawtairkan.
Istiqomah atau tidak perilaku anak-anak, akan bergantung konsistensi orangtua berakhlak pada anaknya, mendidik anaknya, menerapkan pola asuh positif pada anaknya. Ingat ya setiap waktu kita terus "berubah". Better or worst? I dunno. Karena dalam setiap waktu dan bertambah usia anak sebetulnya tantangan akan terus bertambah. Tantangan anak usia sekolah tentu berbeda dengan saat mereka masih balita. Tantangan saat anak kita usia remaja juga akan berubah dibandingkan saat mereka sekolah dasar dan seterusnya.
Momen lebaran ini saat kumpul keluarga, dapat dijadikan ajang "bersyukur" atau "bersabar" saat kita melihat perilaku anak-anak itu saat kita lakukan "benchmark" dengan perilaku sepupu-sepupunya.
Terlalu banyak orangtua yang sering belajar parenting merasa sekolah "jalan di tempat". Akibatnya sebagian mereka pada saya berkata "Abah, saya merasa belum bisa jadi orangtua yang baik untuk anak saya" atau lebih buruk "saya merasa jadi orangtua gagal."
Perasaan perkembangan anak begini-begini saja atau perasaan gagal mendidik anak itu umumnya terjadi karena: pertama, orangtua mematok teraget ketinggian terhadap dirinya atau anak-anaknya. Apalagi target ini tak sesuai dengan modal dasar yang dimiliki mereka. Karena ketinggian saat tidak mencapai target itu ya pastilah ada perasaan gagal.
Contoh sederhana adalah perkataan semacam ini "Abah pasangan saya sekarang memang nggak pernah lagi mukul anak, tapi masih juga cuek dan gak mau ngobrol sama anak. Bagaimana agar pasangan saya berubah?"
Dia tidak menyadari bahwa pasangannya sebetulnya sudah berubah. Bukankah "nggak pernah lagi mukul anak" itu adalah perubahan? Benar bahwa pasangannya masih cuek pada anak, belum terlibat banyak urus anak, tapi dibandingkan dengan "modalnya yang dulu" boleh jadi itu adalah perubahan lebih baik. Apalagi misalnya jika moda dasar seseorang itu negatif. Seseorang yang dari kecil dibesarkan dengan pola asuh negatif, jika orang ini tidak mau merubah dirinya dengan belajar, orang ini suatu saat ketika mereka jadi orangtua maka "by default" otomatis ia akan menerapkan pola asuh warisan yang ia terima dari orangtuanya.
Kebiasaan yang mendarah daging bertahun-tahun tentu tidak bisa disulap satu dia hari bukan? Kalau mau sedikit review, inilah pentingnya mengetahui nasab calon pasangan sebelum menikah. Nasab di sini maksudnya sekadar keturunan darah biru atau darah kuning. Hakikat nasab atau keturunan di sini adalah "bagaimana ia dibesarkan?
Pengasuhan seperti apa yang ia pernah terima? Apakah ia dibesarkan dengan kekerasan? Apakah ia dulu dekat dengan orangtuanya? Apakah ia termasuk anak yang dicuekin orangtuanya?
Tak sedikit seorang yang sudah menikah, terutama perempuan yang dalam posisi lemah, mengeluh sama saya tentang perangai suaminya yang tidak komunikatif, suka menyendiri, cuek dan lainnya, saya suka tanya balik: ibu dulu wawancara tidak calon suami ibu dengan mendalam bagaimana cara ia dibesarkan? Faham tidak bahwa jika ia sering diabaikan sama orangtuanya bukan tidak mungkin jika ia menjadi laki-laki yang garing bak kanebo kering yang harus dibasahin dulu baru agar tak menjadi kaku. Tentu seorang individu yang mendapatkan "warisan pengasuhan " negatif ini dapat merubahnya jika ia mau. Kuncinya adalah dengan belajar untuk memprogram ulang alam bawah sadar mereka.
Kedua, perasaan gagal muncul karena kadang sebagian orangtua membandingkan dirinya dengan target yang dia harapkan. Saat tidak sesuai harapan ya sudah, pasti merasa gagal. Padahal coba seseekali bandingkan diri kita dengan masa lalu kita. Niscaya ada banyak titik, bukan hanya setitik, kabar gembira di sana. Saya meyakini rasanya sangat akan ada perbedaan orangtua yang belajar dengan yang tidak.
Nah di momen lebaran ini sebetulnya kita dapat melihat bahwa perbedaan itu nyata adanya. Coba sesekali perhatikan dan bandingkan bagaimana perilaku anak-anak Anda, dari orangtua yang rajin belajar dengan anak-anak lain, sepupu-sepupunya, dari orangtua yang tak pernah sama sekali melek ilmu pengasuhan, niscaya sungguh perbedaan itu ada.
Berulang kali lebaran, tidak sekali dua kali saya menerima kabar kegembiraan semacam ini:
"Sebelumnya mohon maaf lahir dan batin ya Abah. Mau ucapin terima kasih banyak atas ilmu dan sharingnya. Masyaallah baru 2 tahun kenal abah tapi banyak perbedaan antara anak kami dan sepupu-sepupunya. Terlihat nyata di momen lebaran kali ini (ceritanya mudik lokal bah) 😁
Dari pandangan mata kami ada sepupunya yang asik main gadget aja. Ada yang konsumtif sekali (beli mainan atau jajan mulu). Anak kami jadi terlihat berbeda.
Bahkan anak sulung kami 6 thn mengingatkan sepupunya saat mau beli mainan:
Anak kami: Kenapa beli mainan terus? (karena dalam beberapa jam sudah 2 kali ke tukang mainan keliling yang mangkal di depan rumah)
Sepupu: senyum
Anak kami: kamu butuh atau ingin? (Wkwkwkwk ini senjata kami klo dia minta sesuatu ternyata dia merekam dan meniru dengan baik 🤭)
Sepupu: butuh
Anak kami: klo cuma untuk kesenangan bukan butuh tapi ingin (🤣🤣🤣🤣)
Anak2 kami tiap habis makan cukup diingatkan tidy up langsung bergerak. Sepupunya yg lebih besar meninggalkan piring makannya begitu saja.
Jadi makin bangga punya mereka. Makin semangat juga belajar. Terima kasih abah."
Demikian whatsapp yang saya terima dari seorang ibu di Bintaro. Atau saya juga mendapatkan kalimat ini dari seorang ayah:
"Bagi saya sendiri alhamdulillah setelah bertahun akhirnya mulai terlihat manfaat belajar parenting dan gerabung degan komunitas parenting. Anak-anak saya tidak sibuk main hape saat bersilaturahmi dengan keluarga besar. Mereka terkontrol perilakunya. Tidak caper/overacting dan lumayan menjadi contoh bagi saudara/teman-temannya.
Dari "klasemen sementara" itulah kita dapat terlihat pengasuhan kita harus ditambah syukurnya atau ditambah sabarnya. Jika sudah baik, maka bersyukur. Jika belum baik, maka bersabar. Keduanya tetap butuh ikhtiar. Yang harus diingat, dunia pengasuhan, tidak ada yang namanya disebut "lulus" atau "gagal" sampai anak-anak kita benar-benar sampai garis finish. Maka sebelum sampai garis finish teruslah melangkah, teruslah belajar. Apa garis finishnya? Wafat meninggalkan dunia.
Mengapa harus terus melangkah? Anak kita hari ini yang mungkin membuat kita bangga, belum tentu akan terus membuat bangga puluhan tahun berikutnya. Jika tidak istiqomah, ujungnya boleh jadi malah bikin malu keluarga, inilah yang membuat kita lebih baik memilih kata "bersyukur", alih-alih "berbangga". Bersyukur artinya bukan diam, tapi terus menambah kebaikan. Sebaliknya saat kita merasa anak-anak kita masih menyulitkan kita orangtuanya, jangan menyerah, jangan pernah menyebut gagal, sepanjang mereka dan kita masih hidup, sepanjang itulah berarti Allah kasih kita peluang untuk memperbaikinya.
Bagaimana agar kita menjadi pribadi istiqomah dalam pengasuhan anak? Pertama, tidak berhenti belajar seperti yang sudah dibahas sebelumnya dan kedua selalu bergabung dalam komunitas kebaikan agar kita memiliki sarana untuk terus saling mengingatkan dalam kebaikan. Parents, bagaimana pengalaman Anda sendiri? Apa saja perbedaan perilaku anak-anak kita dengan sepupunya yang orangtua minim ilmu pengaasuhan? Ini tak berarti kita ingin merendahkan satu dengan yang lainnya tetapi hanya ingin memberikan energi bahwa insya Allah selalu ada perbedaan orangtua yang belajar dengan yang tidak. -abaihsan.id-