Saat aku jadi single parent, kedua anakku umur 2 tahun dan 6 bulan. Concern pertamaku saat itu adalah menyibukkan diri cari penghasilan buat diri sendiri lagi, bukan soal mendidik anak.
Lalu aku mulai tersadar. Tersadarnya gara-gara ngeliat anak pertama yang nggak ada binar mata seperti pada anak-anak pada umumnya. I can feel it, dia seperti nggak bahagia. Dia gampang tersulut emosi, lebih gampang ngambek. Dan kami nggak bisa komunikasi saat itu.
Sampai akhirnya temen cerita tentang pelatihan parenting. Jujur, baru kali itu dengar nama pembicaranya. Dan selama ini juga nggak terlalu concern tentang ilmu parenting. Dulu mikirnya, ya udah berjalan apa adanya aja sih kalau soal ngurus anak.
Akhirnya dengan menguatkan tekad kita coba belajar ilmu parenting ini, yang saat itu ikut lewat sekolah, saat anak pertama berkesempatan untuk PAUD. Sengaja pilih sekolah yang mewajibkan orangtuanya ikut belajar parenting selama 2 hari.
Jujur tadinya agak under estimate juga, apa aja sih yang dibahas sampe 2 hari segala. Eh setelah ikut, taunya malah bikin nagih. Salah satu Ilmu YANG SANGAT BERMANFAAT BANGET DALAM HIDUPKU.
Makjleb yang pertama adalah saat ditanya narasumber: “Apakah anak itu anugerah?” Tentu saja dijawab iyaaaaaaaaa oleh semua peserta. “Lalu kenapa merasa senang saat anak sedang tidak dirumah? Misalnya sedang sekolah? Malah senang anak sedang main ke rumah sepupu atau neneknya?”
Lah kok dalam hati “loh kok iya yah, kok aku malah seneng saat anak ga ada di rumah, kok aku malah menikmati saat ga ada anak-anak bukan malah sebaliknya, kok aku nggak menikmati saat bersama anak anak”
“Kita ngurus anak itu pada hakikatnya adalah mempersiapkan anak. Mempersiapkan anak agar bisa siap dilepas nantinya. Karna kita sama anak nggak akan sama-sama terus, entah mereka akan bersekolah atau tinggal jauh dari orangtuanya, atau malah orangtuanya meninggal terlebih dulu”
Kata-kata persisnya bukan seperti itu, tapi yang aku tangkap saat itu adalah seperti itu. Aku mewek. Iyah bener, ini yang aku butuhkan. Karna jujur saja, saat berpisah dengan ayahnya aku seperti kehilangan arah, mau bagaimana ke anak-anak. Aku harus ngapain ke anak anak.
Sejak itu, aku seperti punya arah dan tujuan, untukku nggak yang neko neko:
Apakah mudah? Tentu tidak segampang itu pulgoso. Tapi Alhamdulillah, uminya sadar saat anak anak masih kecil, jadi bisa dibilang lebih mudah.
Setelah lumayan banyak bekal belajar jadi orangtua, sekarang, mau kemana-mana ibunya tenang damai sentosa. Mau sekedar jalan saja ke mol, masuk ke toko mainan, masuk ke toko buku, masuk kemana aja, kalo perjanjian awal adalah cuma melihat-lihat, ya itulah yang akan kita lakukan.
Begitu juga saat ke minimarket atau supermarket, perjanjiannya beli berapa itulah yang akan dibeli sesuai yang ibunya approve. Jadi nggak ada tuh takut-takut di depan kasir liat kinderjoy 😂 karna mereka tau itu jajanan yang ibunya biasanya tidak approve. Eit, tapi bukan berarti nggak pernah beliin loh ya.
Bonding kami pun saat ini insyaAllah semakin kuat. Si sulung sudah bisa mengutarakan isi hatinya (yang dulu susaaaaaaaaah sekali). Kini ibunya pun sangat menikmati saat saat ada anak-anak di rumah atau pun ga ada anak anak di rumah.
Anak-anak nggak ketergantungan gadget, mereka kadang tetep dikasih main gadget, tapi kalau ga diapprove sama ibunya pun ya udah, berusaha menyenangkan dirinya sendiri saja. Banyak lagi kalau mau dituliskan.
Alhamdulillah Allah beri kemudahan buat kami, salah satu wasilahnya belajar ilmu parenting. Jadi kalau kata orang parenting itu hanya teori? Buatku, ini ilmu yang MASYAALLAH luar biasa sangat berguna sekali dalam kehidupanku.
Apalagi aku single parent. Ini benar-benar memudahkanku yang seorang single mother, yang bekerja, kadang dibantu mbak dirumah, tapi kadang hanya kami bertiga saja.
Semoga makin banyak yang bisa melek parenting, makin banyak pasangan yang satu visi dan misi dalam parenting, makin banyak pasangan yang sama-sama mau belajar bukan hanya ibunya saja, makin banyak yang bisa terbuka mindsetnya, mau menerapkan ilmunya, mau konsisten, mau tega(s) demi anaknya dan juga demi memudahkan ke depannya juga.
Semoga kelas belajar seperti PSPA Abah Ihsan bisa lebih banyak diikuti oleh orangtua-orangtua lain.