Ketika Anak Kuliah Asal-asalan

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

21-Jan-2022

Nilai IPK kuliah anjlok gegara banyak main? Kuliah ganti-ganti kampus mulu padahal ngeluarin biaya tidak sedikit? Kuliah nggak selesai-selesai? Apa yang harus dilakukan?

Mereka, anak-anak kuliah ini tentu bukan anak kecil. Ekspektasi orangtua biasanya anak sudah faham soal tanggung jawab. Benarkah?

Jadi apakah harus dimarah-marahin kalau nggak bener kuliah? Atau dibiarkan saja? Ya nggak juga keduanya. Pendapat saya, cuma 2 solusinya: pertama, cari solusi bersama jika ada hambatan, kedua berikan limitasi jika solusi yang disepakati bersama tidak dilaksanakan. Gak usah diatur heboh sampai detail segala.

Yang pertama soal cari solusi bersama maksudnya adalah apa yang membuat dia misalnya susah untuk kuliah dengan benar: salah jurusan? Jika ya, ya tidak bisa dipaksakan. Mungkin pindah kuliah dengan segala risikonya termasuk biaya. Tapi tentu harus ada tindak lanjut kedua: limitasi. Misalnya kita berikan kesempatan 1x pindah kuliah. Jika pindah lagi, gak nyaman lagi ya harus biaya sendiri kuliahnya gak bisa lagi disubsidi.

Atau misalnya dia banyak main, banyak kelayapan. Soal ini langsung bisa ke yang kedua kasih limitasi: kamu mau terus kuliah atau mau berhenti kuliah? Jika mau lanjut kuliah berikan kesempatan 1 semester untuk memperbaikinya. Jika tidak mau kuliah ya dia harus kerja, selesai tugas orangtua.

Jika dalam 1 semester kuliahnya masih tidak betul harus ada limitasi lain: biaya hidup dicabut, biaya kuliah yang ditanggung orangtua. Atau boleh dibalik, biaya hidup sama orangtua, biaya kuliah dia harus cari sendiri boleh jugaJika dalam 2 semester berturut-turut masih tidak betul? Ya biaya hidup dan kuliahnya langsung dicabut


Seorang manusia disebut dewasa jika dia sudah sanggup mengambil peran dan segala konsekuensi yang menyertainya. Jika terus "dilindungi" maka tidak mungkin dia menjadi dewasa.

Tak sedikit orangtua yang mengadu kepada saya bahwa anaknya tidak betul kuliah, pindah-pindah mulu, banyak main, drop out kuliah, tapi terus saja masih disubsidi orangtua. Ya sampai tua itu anak bakal nyusahin.

Yang jelas anak harus faham pertama, orangtua hanya membantu menyiapkan anak sampai berpisah dengan orangtua karena itu ada batas waktunya. Harus jelas ditentukan sampai umur berapa anak bakal "Ditanggung orangtua"? Kalau saya, 25 tahun selesai. Tidak boleh tinggal di rumah ini lagi.Tinggal dimana? Bukan urusan saya. Dulu saya tinggal bertahun-tahun di masjid untuk bertahan hidup juga bisa kok. 25 tahun itu sudah dilebihkan dari hukum agama dan undang-undang loh. Anda tidak urus anak anda usia 25 tahun apakah bakal dianggap melakukan penelantaran dan lalu dipenjara? Ya nggak.

Itu anak cowok ya. Bagaimana anak perempuan? Ya tetap saja sampai 25 tahun. Jika lebih dari 25 tahun belum nikah orangtua memang bertanggung jawab soal kebutuhan hidup. Tapi ingat ya, yang ditanggung adalah kebutuhan hidup, bukan gaya hidup. Jadi kalau anak usia 26 tahun pengen henpon minta orangtua, ya belikan sesuai dengan budget orangtua. Beli henpon siomay yang 2 juta, samson yang 3 juta, ya terserah orangtua. Kalau anak mau beli henpon yang 15 juta seperti henpon ipin gimana? Ya pake uang dia sendiri dong.

"Aku kan gak punya uang Ma Pa", kata anak. Lah makanya kalau nggak punya uang jangan belagu. Kalau dia minta ke kita orangtuanya, ya terserah kita dong mau belikan yang kayak gimana. Atau kalau anak kita mau beli kerudung, terus pengen yang kerudung merk "sesa-sesa" yang harganya 2 juta? Beuh!  pake uang sendiri dong marconah. Kalau minta ke kita ya beli aja yang harga 20 rebu tiga.

Kedua, masa depan dia ditentukan dia sendiri bukan orangtua.

Tega-s adalah kunci utamanya. Jika tidak tega sampai tua kita akan menjadi orangtua menderita dan anak tidak berkembang potensinya gegara kasihan, kasihan, kasihan yang tidak disertai penyayang. Ingat ya ada pengasih ada penyayang. Harus seimbang keduanya. Orangtua peng-kasih terus menyiapkan keperluan anaknya, orangtua penyayang melatih anak untuk mengurus keperluannya sendiri.

Orangtua pengasih menyiapkan nasi goreng kesukaan anaknya, orangtua penyayang melatih anak membuat nasi gorseng kesukaanya sendiri.

By nature, semua organisma hidup di bumi hanya akan berkembang jika dia dipisah dengan induknya. Apakah buah pisang akan berbuah baik jika nempel dengan inangnya? Udah ah kepanjangan


-abaihsan-



0 Komentar



Komentar :

Wiji Ayu Prihatin
Posted : 24-11-2022
MasyaAllah namanya belajar tidak akan pernah berhenti