Manfaat Hebat Anak Belajar dari Kesalahan

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

27-Aug-2020

Rasanya sebagian besar orangtua, termasuk saya, tidak suka melihat anak saya berbuat salah. Wajar saja karena semua orangtua ingin anaknya tetap menjadi orang baik, orang yang selamat dan orang yang sukses seperti yang dicita-citakan.

Pertanyaannya, apakah orang-orang sukses itu berarti tidak pernah mengalami kegagalan? Apakah mereka tidak pernah berbuat kesalahan? Faktanya hampir semua pencapaian harus melewati berbagai macam kesulitan, kesalahan dan kegagalan. Bahkan seringkali berulang.


Ketika saya kecil dulu, ketika saya berbuat salah, apa yang dilakukan orangtua? Bukan hanya auto menyalahkan, tetapi juga buru-buru membetulkan kesalahan saya. Misalnya ketika anak lama memakai tali sepatu, orangtua buru-buru menalikan tali sepatu itu. Ketika anak memakai kancing, orangtua buru-buru mengkancingkan. Ketika anak lupa mengerjakan PR , lupa membawa buku sekolahnya, lupa membawa peralatan sekolahnya: sarung tangan bola, ballpoint, penghapus, atau lainnya, orangtua buru-buru mengantarkan perlatan itu ke sekolah.

Akibatnya? Anak tidak belajar berproses, anak menjadi tidak bergantung pada kemampuan dirinya. Anak juga tidak belajar menerima konsekuensi akibat “kelalaian” dia membawa buku ke sekolahnya. Padahal, andaikan orangtua tidak mengirimkan buku itu ke sekolah, tentu anak akan menerima konsekuensi dari gurunya. Tentu anak akan mengalami kerugian berupa perasaan tidak nyaman, poinnya berkurang, dihukum gurunya, diberikan tugas tambahann dan seterusnya.

Tanpa orangtua salahkan pun, tanpa orangtua marahi, anak akan belajar bahwa ketika dia melakukan kelalaian dia akan menerima konsekuensi otomatis atas perbuatan yang dia lakukan. Tentu anak tidak ingin mendapatkan ketidaknyamanan yang sama bukan? Kadang satu dua kali masih diulangi, tapi saya yakin anak tidak akan nyaman jika terus menerima ketidaknyamanan berulang. Yakinlah mereka akan bekerja keras untuk menghindarinya.

Anak-anak tidak mendapatkan “pelajaran berharga” itu semua jika orangtua buru-buru menolong mereka dengan mengantarkan perlatatan sekolah yang ketinggalan di rumah. “Lets Children Grow Up!”

Setelah saya jadi ayah, eh jadi abah, buat 6 orang anak saya, hampir saja saya meniru “warisan” dari orangtua saya. Buru-buru menyalahkan anak ketika anak berbuat salah dan tentu saja buru-buru mengoreksi, membetulkan, memperbaiki kesalahan anak saya. Alih-alih memberi kesempatan anak saya untuk belajar mencari solusi atas kesalahan yang dia lakukan. No, i have to better than that!

Semakin anak saya besar, semakin saya menyadari bahwa anak-anak saya ternyata mendapatkan manfaat banyak ketika mereka “dibiarkan” oleh saya untuk belajar dari kesalahan, bahkan dibiarkan oleh saya dengan sengaja sesekali untuk melakukan kesalahan. Tentu ini tidak berlaku pada semua perbuatan loh ya. Jangan coba-coba anak kita dibiarkan melakukan latihan kesalahan ini pada perbuatan-perbuatan yang dapat berdampak pada cedera dan kecelakaan berat pada dirinya, berdampak pelanggaran hukum negara, norma agama atau yang berpotensi merugikan kepentingan orang lain.

Ketika anak saya masih kecil, saya biarkan anak saya memanjat pagar gerbang rumah. Dengan pengawasan saya dan pengukuran senbelumnya, jika anak saya terjatuh paling hanya akan lecet. Dan benar anak saya terjatuh. Saya biarkan anak saya terjatuh. Mereka menangis, saya memeluknya. Mereka otomatis akan belajar, bahwa “oh aku belum cukup kuat untuk memanjatnya” tanpa harus diceramahi sebeelumnya “jangan naik! kamu nanti jatuh!” atau sesudahnya “Makanya jangan sok-sokan pake manjat-menjat segala. Belagu, rasyain!” Gimana tuh rasanya jadi anak? Udah sakit, disalahin pula.

Waktu anak pertama saya kelas 2 SD (sekarang SMA), saya ingat betul anak saya menangis di pagi hari dan gak mau sekolah ketika dia baru sadar bahwa dia lupa mengerjakan PR nya dan malu jika sekolah belum mengerjakan PR nya. Apa yang saya lakukan? Apakah saya mencoba menenangkan dengan buru-buru mengerjakan PR? Apakah saya buru-buru menawarkan solusi pada anak saya?

Bukan itu semua. Saya memeluk anak saya, saya terima perasaan sedihnya. Setelah itu “Abah mau tanya nak, kira-kira biar Teteh tenang, ada ide gak apa yang dapat Teteh lakukan?” Jika anak saya sekolah, maka dia harus menerima konsekuensi dari sekolahnya. Jika tidak mau sekolah gegara gak mengerjakan PR, dia akan merima konsekuensi di rumahnya. Tidak sekolah berarti tidak menjalankan kewajiban. Tidak menjalan kewajiban berarti haknya dicabut, kebebasannya dicabut. Tidak boleh keluar kamar. Tidak ada nonton, tidak ada hape, tidak laptop. Hanya boleh tidur dan baca buku. Sampai magrib.

Nanti ketinggalan dong pelajarannya? Ini sering saya bahas. Ketika anak tak mau sekolah lalu dia menerima konsekuensinya, maka dia belajar soal bahwa ketidakmauan dia melakukan tugas membuat dia harus MENANGGUNG akibatnya. Ini yang dimaksud anak belajar TANGGUNG jawab. Dan tanggung jawab adalah bagian dari pendidikan, bagian dari ejukesyen. Lebih baik anak saya ketinggalan pelajaran matematika dong daripada ketinggalan tanggung jawab. Ketinggalan matematika bisa susulan, bisa les tambahan. Ketinggalan tanggung jawab? Les nya di kehidupan dewasa. Bukan kita, tetangganya, pasangannya, anak-anaknya yang menerima kerugian dari kelalaian kita mengajarkan tanggung jawab.

Kembali ke soal belajar dari kesalahan. Bukanlah akhir kehidupan jika kita pernah mengalami kesalahan atau kegagalan. Orang tua yang mencintai anak-anak mereka berarti mereka juga mencintai mereka saat mereka membuat kesalahan. Bukan membencinya. Tujuannya adalah untuk membantu putra atau putri kita mencari jalan lebih baik terus-menerus untuk perjalanan hidupnya. Anak harus belajar bahwa mereka dapat bangkit kembali ketika pernah terjatuh.

Ternyata, membiarkan anak membuat kesalahan dapat membantu mereka mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk menjadi orang dewasa yang sehat. Dengan mendukung anak-anak Anda saat mereka melakukan kesalahan, Anda dapat memperkuat manfaat ini dan melihat mereka mempelajari pelajaran berharga dari kesalahan mereka.

Jadi, banyak ya manfaat “membiarkan” anak sesekali melakukan kesalahan? Apa saja sih?

PERTAMA, meningkatkan SELF RE-LIABILITY

Apa itu self realibility? Kemampuan untuk menjadi pribadi yang dapat diandalkan. Diandalkan dari apa? Dari masalah yang dia hadapi. Sama seperti ketika anak saya lupa mengerjakan PR nya dan menerima konsekuensi, maka dia belajar bahwa dia tidak boleh mengulanginya lagi. Dia sendiri yang harus merubahnya, bukan saya.

KEDUA, menumbuhkan SELF CONFIDENCE

Bentar-benar, kok melakukan kesalahan bisa membuat percaya diri? Logikanya dimana? Bukannya kadang kalau kita merasa gagal kita jadi terjatuh dan demotivated?

Jangan ngegas dulu dong cuy! Tahu gak arti confidence? Confidence itu dari bahasa latin yang artinya “with faith” atau “dengan yakin”. Artinya orang yang merasa confidence punya keyakinan diri yang kuat bahwa dirinya memiliki hal-hal positif.

Manfaat kedua ini akan muncul jika setelah anak membuat kesalahan anak kita sendiri yang akhirnya “berubah’” dan mampu memperbaiki kesalahan itu. Anak-anak kita akan belajar bahwa mereka lebih besar dari kesalahan mereka. Saya masih ingat ketika pertama kali membuat nasi goreng waktu kira-kira sekolah dulu. Rasanya aneh, hambar!

Lalu saya bertanya pada orangtua saya, gimana biar enak? Saya ikuti petunjung orangtua saya: mun hayang ngeunah make muncang, uyahna saeutik-saeutik, tambahan bawang goreng. Mun hayang warna pake KONENG. Mun hayang amis pake kecap. (terjemah: gak penting, cari sendiri).

Lalu saya coba deh 2-3x dan akhirnya! Enak! Apa yang saya rasakan? Wih.. saya merasa jadi Ibu Sisca Soewitomo seketika. Sejak saat itu saya pede bisa membuat masakan lainnya.

Bagian dari membangun kepercayaan diri berkaitan dengan perasaan pencapaian yang datang dari belajar setelah kesalahan dibuat. Ketika anak-anak membuat kesalahan atau gagal dalam suatu hal, kemudian mencari cara untuk melakukan tugas itu dengan benar, mereka pasti dapat memperoleh kepercayaan diri karena mereka merasa telah membuat pencapaian yang menurut ukuran anak-anak itu penting loh. Bahasa lainnya adalah perasaan berprestasi. Jadi perasaan berprestasi muncul bukan melulu ketika anak kita nilainya bagus, ranking, tetapi ketika anak kita mampu menyelesaikan kesalahan-kesalahannya, perasaan berprestasi ini bisa jadi jauh lebih berharga untuk bekal hidup mereka.

KETIGA, membuat anak terhindar dari CEMAS BERLEBIHAN

Tidak  ada orang sukses yang tak pernah mengalami kegagalan dan kesalahan bukan? Semakin banyak kesalahan yang kita buat, semakin banyak kita belajar. Tentu tidak semua orang memilki kemampuan ini. Sebagian orang menyerah dan akhirnya ya begitu-begitu saja hidupnya. Kemampuan untuk menggunakan kesalahan sebagai 'batu loncatan' menuju kehidupan yang lebih sehat dan bahagia adalah keterampilan yang harus dipelajari anak-anak agar anak kita setelah dewasa tidak menjadi pribadi yang lembek dan gampang menyerah.

Membiarkan seorang anak melakukan kesalahan dapat mengurangi risiko kecemasan di kemudian hari. Tentu manfaat ini dapat diambil jika orangtua mendampingi, membimbing anak bahwa dia mampu kok bangkit dari kesalahan.

Sebaliknya, anak-anak yang takut melakukan kesalahan atau takut gagal cenderung lebih khawatir, cenderung tidak mencoba pengalaman baru, dan berisiko lebih besar untuk mengembangkan gangguan kecemasan. Kalau yang ini bukan pendapat saya. Ini pendapat Deborah Zlotnik, Ph.D., seorang psikolog dengan lembaga Children's National di USA sono.  

Selain itu, jika seorang anak diajari bahwa dalam hidup tidak boleh melakukan kesalahan, pada akhirnya ketika mereka melakukan sesuatu yang salah, mereka mungkin lebih cenderung menyembunyikan kesalahan atau kegagalan karena mereka mungkin telah belajar bahwa kegagalan itu memalukan. Padahal saat dewasa kelak, anak-anak kita tak mungkin tidak mengalaminya bukan?

KEEMPAT, membuat anak belajar BERTANGGUNG JAWAB

Membuat kesalahan dapat mengakibatkan konsekuensi yang tidak terlalu menyenangkan. Perasaan tidak menyenangkan yang akan dialami anak inilah yang akan membuat anak belajar bahwa semua perbuatan ada konsekuensinya.

Sebaliknya, anak-anak yang 'terlalu terlindungi' dan tidak pernah diizinkan melakukan kesalahan tidak akan pernah belajar bahwa mereka sebenarnya bisa salah. Kita semua membuat kesalahan sebagai manusia dan kita semua perlu belajar bagaimana menerima konsekuensinya sehingga kita tidak membuat kesalahan. yang sama berulang kali.

Bukankah ini pelajaran berharga yang penting buat anak?

KELIMA, meningkatkan RESILIENCY anak

Apa itu reselience? Kelentingan, kemampuan untuk menjadi hidup fleksibel, tidak kaku. Kemampuan untuk berubah dan hidup adaptif. Ya kira-kira begitu yang tidak agak belibet dari banyak definisi reselience.

Dengan membiarkan anak-anak membuat kesalahan, mereka dapat belajar untuk BERTOLERANSI pada kesalahan oranglain dan dirinya. Bukan berarti menjadi terus-terusan salah loh ya. Maksudnya kadang sebagian orang menjadi sangat cemas bahkan berkaitan dengan kesalahan yang dilakukan dirinya, akibat hidup terlalu perfeksionis. Mau rumah rapih terus sepanjang hari, padahal anak masih balita. Akibatnya? Beresin, acak-acakan. Beresin, acak-acakan lagi. Capek, capek dan capek.

Kan harusnya orang yang resilience tidak harus sekaku itu ya. Bahwa rumah harus beres sepanjang hari. Dengan alasan, nanti kalau ada tamu gimana, kan malu. Kalau ada sidak mertua gimana?

Doh.. emang tamu datang itu akan datang 24 jam, emang mertua datang setiap hari? Kalau pun datang saya sih akan bilang “rumah ini akan rapi antara jam 20 sampe jam 5 pagi. Karena masih balita disini. insya Allah akan lebih rapih jika mereka sudah tidak jadi balita lagi.”

Anak yang resilience gak akan marah-marah dan stress berlebihan saat gambar yang dia buat tidak sempurna, saat bangunan balok yang dia buat runtuh.  Tidak apa kecewa, tapi ya tak usah marah-marah juga kan?

Jadi saat anak mengalaminya apa yang harus dilakukan? “Kalau mau udahan, udahan dulu aja. Nanti terusin lagi kalau udah tenang. Mau udahan, mau diterusin nih dek?” Terus malamnya cerita dong kita. Dulu Abah, waktu SD main bola, abah suka disuruh jadi bek terus. Karena abah gak bisa nge-golin terus. Mungkin abah gak ahli ya? Tapi saat lari, abah nomor satu terus larinya. Teman abah saat pelajaran lari, setengah jam aja udah mampir warung es mambo!”

Jadi gitu parents, beberapa manfaat jika anak kita dibiarkan melakukan kesalahan. Hati-hati ya tidak pada semua perbuatan ini berlaku seperti yang dijelaskan sebelumnya. Masih banyak loh manfaat lainnya. Tapi itu saja dulu. Sudah pegal nih nulis.



0 Komentar



Komentar :

Wiji Ayu Prihatin
Posted : 24-11-2022
MasyaAllah namanya belajar tidak akan pernah berhenti