“Bu, jika memungkinkan sebaiknya anak dilarang bawa smartphone ke sekolah. Jika memang belajar butuh internet, lebih baik pake laptop sediakan wifinya oleh sekolah. Meski sama-sama internet, tapi laptop tidak seportable smartphone.” Begitu usul saya suatu hari pada seorang kepala sekolah.
“Memangnya kenapa pak?” tanya beliau penasaran.
“Saya setuju anak kita mengenal teknologi dan menguasai teknologi itu baik. Tapi menguasai teknologi bukanlah dikuasai teknologi. Menguasai teknologi artinya anak kita menggunakan teknologi, salah satu produknya smartphone, untuk sebanyak-banyaknya belajar, produktivitas, saya setuju. Menurut ibu, apakah anak kita main Instagram setiap hari, nonton youtube tiap hari, bikin tik tok ini itu, nge prank sana sini, main games setiap itu disebut menguasai teknologi?”
“Ya tidaklah. Tapi selama ini saat jam belajar, kami simpan hapenya di guru Pak.”
“Saat jam istirahat dan pulang sekolah diserahkan lagi smartphonenya?’
“Iya.”
“Ibu pernah memperhatikan tidak atau jika mau silahkan lakukan penelitian, saat anak smp dan sma di sini megang handphone, content apakah yang mereka buka? Sebagian besar content-content edukatif atau content-content yang hanya bersenang-senang, bersenang-senang dan bersenang-senang?”
“Tapi jika pun dilarang di sekolah sama saja pak, di rumah juga dikasi orangtuanya.”
“Ya itu urusan orangtuanya. Ibu punya otoritas di sekolah ini maka ibu yang akan diminta pertanggungjawaban Allah terhadap perilaku murid-murid ini di sekolah.”
“Nanti kalau orangtuanya mau berkomunikasi dengan anaknya bagaimana pak, misalnya untuk antarjemput?”
“Itu masalah teknis. Jika untuk komunikasi bisa saja kan hubungi guru wali kelas, security, call center sekolah, dibelikan handphone yang hanya untuk kepentingan voice dan seterusnya.”
“Emang bahayanya apa sih pak?”
“Ibu punya anak SMP kan sama seperti saya?”
“Iya ada pak.”
“Boleh nggak jika anak ibu minta izin untuk keliling eropa sendirian?”
“Ya belum waktunyalah, kalau didampingi saya, ibunya boleh.”
“Ya setuju, itu pertanda ibu sayang sama anak ibu. Emang kenapa nggak boleh?”
“Saya pikir dia belum cukup dewasa untuk itu.”
“Jadi jika cukup dewasa, boleh keliling dunia sendirian?”
“Boleh.”
“Usia berapa?”
“Ya kira-kira 18 tahun lah.”
“Nah karena itu saya juga tidak memberikan anak saya yang 17 tahun untuk punya sendiri. Nanti saat dia kuliah atau saya anggap dewasa saya perbolehkan. Tidak melarang sama sekali. Tiap hari juga boleh kok asal menggunakannya dengan prinsip 3D: Dibutuhkan, Didampingi, Dipinjamkan.”
“Penjelasanya gimana?”
“Sucbribe dong channel youtube aku”.
“Yeeee.”
“Kan mau tahu, ada tuh penjelasannya.”
Banyak tak percaya dengan saya ketika saya mengatakan bahwa anak yang belum cukup dewasa atau belum akil, dengan struktur otak mereka, ketika diserahkan smartphone sendirian tidak akan menggunakannya untuk prioritas kebutuhan. Salah satu survei dari The Asia Parents misalnya membuktikan dugaan saya ini. Setelah diteliti, harapan orangtua menggunakan smartphone untuk hal positif, ternyata tidak sesuai kenyataan.
Seperti ibu kepala sekolah yang ngobrol dengan saya. Awalnya dia mengatakan hal yang mirip dikatakan banyak orangtua “Jangan negatiflah dengan smartphone. Banyak loh content positif. Banyak juga kan ceramah agama disana. Anak kan bisa menggunakan aplikasi edukatif, untuk belajar dan lain-lain.”
Tapi 3 tahun kemudian, ternyata alhamdulililah sekolah ini akhirnya membuat kebijakan melarang bawa smartphone ke sekolah. Sejak dulu dia setuju dengan saya. Satu-satunya hambatan, ternyata owner sekolahnya yang sekolah di sana sudah terlanjur addict dengan gadget dan sang owner justru kesulitan mengendalikan anaknya dari adiksi ini. Setelah anak sang owner melanjutkan ke jenjang selanjutnya, akhirnya peraturan ini diberlakukan.