Anak-anak bukan orang dewasa. Pendidikan orang dewasa (andragogy) berbeda dengan pendidikan anak (pedagogy). Orang dewasa dianggap tumbuh kembangya sudah tuntas. Sementara anak-anak dalam proses bertumbuh dan berkembang. Karena mereka terus bertumbuh dan berkembang, fokus anak-anak sangat berbeda dengan orang dewasa.
Anak-anak memiliki rentang perhatian yang lebih pendek daripada orang dewasa. Perhatian atau konsentrasi adalah salah satu fungsi otak yang dikendalikan oleh lobus frontal pada otak manusia. Proses ini memungkinkan manusia mengambil informasi dan memilih apa yang dianggap berguna. Secara umum, mengutip tulisan Dr. Lisa G. Hahn, Ph.D., ABBP dari Morrys Psychological Group, seorang anak memiliki rentang perhatian 3 sampai 5 menit per tahun dalam hidupnya.
Tentu ini adalah generalisasi saat anak dalam keadaan tumbuh kembang normal dan tidak dirusak oleh intervensi buruk lingkungan yang merusak pemusatan perhatiannya. Jadi paling mudahnya adalah fokus seorang anak sesuai usianya adalah usia anak dikali 3, paling banyak dikali 5 dari usianya. Karena itu usia anak 7 tahun misalnya hanya dapat melakukan berkonsentrasi pada sebuah kegiatan paling lama 35 menit.
Rentang perhatian anak yang lebih pendek dibandingkan orang dewasa itu bukan tidak ada gunanya. Justru ini membuat anak memiliki peluang untuk mencoba banyak hal. Kita orang dewasa menyebutnya sebagai “gampang bosan”. Gampang bosan pada anak diciptakan Allah sebetulnya luar biasa bermanfaat untuk hidup anak. Gampang bosan pada anak membuat anak jadi “cepat berpindah” dan terus bergerak pada kegiatan lain. Ini adalah bosan yang alamiah dan bermanfaat.
Berbeda dengan anak yang gampang bosan karena ketergantungan dengan sebuah alat bernama smartphone. Mengapa dengan smartphone anak jadi anteng dan dapat berjam-jam menggunakannya? Karena smartphone dengan content menawarkan banyak sekali pilihan content untuk anak dan memenuhi kebutuhan “berpindah” tadi. Sayangnya yang berpindah adalah layar, gambar, visual di smartphone bukan tubuh mereka, bukan sensor atau panca indra mereka. Ini yang kemudian membuat anak justru ketika smartphone dicabut mereka bukan malah tambah kreatif tapi tambah “mati” kreativitasnya dan dengan mudah mereka berkata “Aku bosan Ayah Ibu! Masa main hape tidak boleh! Aku harus ngapain coba?!”
Perhatian pada rentang perhatian pada anak ini menjadi penting agar orangtua dan pendidik dapat memahami dan melakukan pendekatan tepat pada anak terutama ketika menyampaikan sebuah materi pembelajaran pada anak di rumah atau di sekolah. Apalagi jika hanya menggunakan salah satu sensor (indra) saja pada anak. Misalnya sensor pendengaran saja atau penglihatan saja, tentu konsentrasinya akan lebih rendah lagi. Jika pun dipaksakan, otak akan memiliki kesulitan untuk memproses informasi.
Ketika orangtua memahami ini, maka dengan mudah kita dapat menjawab jika ada orangtua yang bertanya “kenapa anak saya 5 tahun itu kalau diajarkan mengaji atau membaca suka tidak tahan lama?” Para pendidik di seluruh dunia tahu bahwa untuk dapat membaca ada modal yang harus dimiliki anak dulu yaitu: fokus yang baik. Jika fokusnya belum baik, tentu saja dapat dipaksakan, tapi akibatnya malah merepotkan anak sendiri di masa depan. Ada banyak bukti anak yang dapat cepat membaca buku, malah tidak keranjingan baca buku setelah dewasa.
Karena itu di sekolah yang saya kelola, ada prinsip yang wajib dijalankan oleh semua guru yang kami sebut dengan prinsip 15 menit. Anak-anak usia SD hanya boleh melakukan pembelajaran maksimal 15 menit dengan metode “ceramah!” Anak prasekolah malah lebih pendek lagi: 10 menit. Jadi guru di sekolah kami “haram” ceramah panjang, maksimal ya tadi 15 menit, toleransi 20 menit. Waktu 15 menit ini adalah waktu “pesimis”yang diambil. Artinya meski anak dapat memiliki perhatian x3 - x5 usianya, x2 yang kami ambil, yang berdasarkan evolusi pengalaman kami adalah waktu ideal anak masih memberikan perhatian lebih baik jika hanya mendengar materi satu arah dari guru.
Jadi materi pembelajaran dilakukan dengan cara apa dong? Anak diajarkan menemukan kebenaran, mempelajari pelajaran dengan menemukan sendiri. Bolehlah Anda menyebut ini dengan pendekatan konstruktivistik, pengembangan lebih mature daripada metode pembelajaran behaviouristik dan kognitivistik.
Menemukan sendiri tidak berarti sama dengan “dibiarkan begitu saja”. Student center atau belajar berpusat pada siswa itu bahasa lainnya, sebetulnya sudah lama digaungkan. Sejak jaman baheula bahkan ketika saya dulu sekolah sudah dikenal pendekatan ini yang disebut dengan CBSA atau Cara Belajar Siswa Aktif. Ini sebetulnya metode yang sangat baik sekali. Hanya saja dan sayang seribu sayang CBSA pada praktiknya sering tidak difahami dengan benar yang ada malah menjadi plesetan dalam bahasa Sunda Cul Budak Sinah Anteung (Biarkan Anak Biar Anteng), sementara guru di kantin, ngerokok, ngobrol di luar kelas.
Jika ini dipahami dengan benar, justru guru malah bekerja lebih keras dan harus lebih kreatif menyiapkan banyak sekali perangkat pembelajaran sebelum belajar dimulai. Oleh sebab guru hanya boleh “ceramah’ 15 menit, maka lebih banyak anak-anak bereksplorasi mempelajari sebuah materi dengan menyusun dan mengkonstruk pelajaran dari alat pembelajaran yang sudah disiapkan guru yang insightnya sudah disampaikan oleh guru.
Murid-murid dengan metode belajar ini, didorong untuk melibatkan sebuah indranya, bukan hanya diam mendengarkan guru berceramah. Tangannya bergerak, kadang kakinya, penglihatan, sensor kulit, pendengaran apalagi, penciuman, dan sedapat mungkin melihatkan semua sensor yang sudah diciptakan Tuhan untuknya. Itu sebabnya kebutuhan alat belajar seperti APE benar-benar sangat banyak dan membutuhkan biaya yang lumayan karena setiap hari disiapkan guru untuk murid.
Ini untuk menjawab pertanyaan, mengapa kok ada biaya APE yang setiap tahun harus membayar. Karena APE memang hampir tiap hari digunakan oleh murid dari mulai pensil, pensil warna, spidol, spidol warna, crayon, kertas HVS, kertas lipat, kertas bufalo, karton, duplex, alat meronce, alat menganyam, alat menjahit, alat cooking, alat melukis (cat, kuas, kanvas), kit matematika, kit IPA, media menanam, media PAI, media TIK, media bahasa, media PJOK, media drama dan lain-lain.
Lalu guru ngapain? Ke kantin? Meninggalkan murid? Wkwkw ya tidaklah! Ups, ganti ah pake bahasa resmi. Kita ulangi ya: Lalu guru melakukan apa? Guru melakukan pemantauan dengan lima kontinum pendampingan berbagai metode: visually looking on (pemantauan langsung di dekat murid), non direct statement, questioning, direct statement (jika masih kesulitan, langsung bertanya kepada anak dan physically intervention. Jadi guru bukan “menelantarkan” murid begitu saja. Tidak boleh.
Berbeda dengan orang dewasa, orang dewasa boleh saja 2-3 jam mendengarkan ceramah dan dapat diam berkonsentrasi (ya gitu?), anak-anak tidak. Anak-anak sekali lagi bukan orang dewasa. Ia tidak boleh disamakan dengan orang dewasa. Jika metode hanya dengan ceramah yang hanya melibatkan satu sensor yaitu pendengaran jadinya seperti kita dulu: berapa banyak dari kita yang masih ingat (apalagi faham) tentang bunyi pasal 19 Undang-undang Dasar 1945 atau 3 isi perjanjian linggar jati.