Saat pandemi menghantam, hampir semua sekolah terpaksa ditutup. Hampir sebagian besar tanggung jawab pendidikan dan praktiknya kembali dipegang orangtua.
Pada awal-awal pandemi, tak sedikit sebagian orangtua dibuat stress, kaget, bingung, saat harus kembali mengurus anak-anaknya, menemani mereka belajar.
"Saya bingung ini mengajarkan matematika, saya sendiri tidak bisa."
"Anak saya maunya main hape terus, tidak mau belajar."
Sebagian orangtua dibuat tak berdaya oleh anak-anaknya. Ketidakberdayaan ini sebetulnya bukan karena orangtua tidak menguasai mata pelajaran tertentu, bukan pula karena orangtua kurang berpendidikan, karena kenyataannya orangtua berpendidikan tinggi pun tak sedikit yang dibuat pusing oleh anak-anaknya saat pembelajaran dilakukan dari rumah. Ketidakberdayaan ini lebih karena kurangnya skill atau keterampilan pengasuhan orangtua dalam menghadapi berbagai tingkah laku anaknya.
Ketidakterampilan tersebut membuat anak alih-alih menjadi "anugerah" buat orangtua, yang terjadi kemudian sebagian anak itu malah jadi "beban" buat orangtua. Apa yang terjadi jika ada orang yang berani nyetir mobil tanpa belajar lebih dahulu? Jika bukan mobilnya yang rusak, si pengemudi yang celaka. Jika bukan si pengemudi yang celaka, orang lain di sekitarnya yang celaka. Bahkan sudah belajar pun, tak sedikit orang celaka, apalagi sama sekali tidak pernah belajar.
Sama halnya dengan anak-anak yang dari awal "dikirimkan" Tuhan kepada manusia sebetulnya dalam keadaan fitrah. Tidak ada anak yang sejak lahir berniat di kepalanya "aku akan buat orangtuaku sengsara" atau "aku ingin jadi penjahat yang sukses". Ketidakterampilan orangtua dalam pengasuhan, alih-alih membuat anaknya jadi bermanfaat yang terjadi kemudian, jika bukan anaknya yang rusak, orangtua yang celaka. Mending jika hanya orangtua saja yang dibuat celaka, tak sedikit anak-anak itu setelah dewasa menjadi masalah untuk masyarakat tempatnya hidup.
Ada banyak skill atau keterampilan pengasuhan yang seharusnya memang dimiliki setiap orangtua agar hubungan orangtua dengan anak menjadi lebih berkualitas, agar anak-anak itu selamat untuk menjalani kehidupan sampai matinya kelak. Keterampilan-keterampilan yang penting diantaranya keterampilan berkomunikasi dengan anak; keterampilan untuk bertindak tegas tapi bukan kasar; keterampilan untuk bertindak lembut tapi bukan lembek; keterampilan membentuk konsep diri anak dan yang lainnya.
Jika keterampilan-keterampilan ini dikuasai orangtua, maka tidak sulit bagi orangtua untuk dapat mengendalikan anak-anaknya. Tidak ada lagi istilah anak semau-maunya sendiri. Tidak ada lagi istilah anak kencanduan gadget dan lainnya.
Apalagi ditambah orangtua benar-benar bertanggung jawab, berkomitmen menyediakan waktu untuk anaknya (bukan menyisakan waktu), maka makin lama, anak-anak itu kemudian semakin banyak dipengaruhi nilai-nilai orangtua, bukan nilai-nilai orang lain, bukan nilai-nilai orang "asing" yang ia lihat di tiktok, youtube, instagram dan platform media sosial lainnya.
Orangtua yang memiliki konsep jelas mendidik anaknya dan kemudian dibekali dengan berbagai keterampilan tadi akan faham bahwa saat sekolah dari rumah, sebetulnya banyak sekali peluang bagi anak-anaknya agar dapat menambah kebaikan jika orangtua mau membimbing anak-anaknya.
Kata kuncinya membimbing, bukan melepas begitu saja. Percayalah anak kita akan menjadi masalah saat mereka makin bertambah usia saat kita tidak bersedia menyediakan waktu untuk membimbing mereka.
Peluang pertama, dengan sekolah dari rumah anak-anak memiliki peluang lebih "merdeka" untuk dapat mempelajari keterampilan-keterampilan baru, lifeskill, yang mungkin saat sekolah biasa dengan jadwal ketat mereka sulit mendapatkannya. Sebut sebagai contoh, belajar desain grafis, pemograman, memasak, berkuda, menulis, menggambar, meningkatkan skill bahasa asing dan lainnya. Asal dibimbing, sekali lagi dibimbing, diawasi, didampingi, bukan dilepas begitu saja, akan memastikan bahwa anak-anak bukan malah menggunakan internet atau fasilitas lainnya hanya sekadar bersenang-senang, bersenang-senang dan bersenang-senang.
Peluang kedua, terlibat dalam pekerjaan keluarga. Anak-anak yang dilibatkan dalam pekerjaan keluarga bersama orangtuanya terbukti akan memiliki kemampuan tanggung jawab yang lebih baik dibandingkan yang tidak pernah melakukannya. Betapa tidak misalnya seorang anak sebutlah punya tugas membereskan di rumahnya, lalu kemudian ada adik atau kakaknya yang menyimpan buku tidak pada tempatnya. Apa yang terjadi pada si "petugas"? Anak ini tentu saja akan marah, tidak nyaman dan mungkin dia akan "nyemprot" saudaranya yang menyimpan buku sembarangan.
Kenapa anak yang punya tugas ini marah? Karena dia merasakan bagaimana rasanya, lelahnya, membereskan buku bukan? Tentu saja ini perasaan "peduli" ini tidak akan pernah didapati oleh anak-anak yang tidak pernah diberikan tugas ini. Betapa banyak orang dewasa sekitar kita kemudian rendah kepedulian, rendah tanggung jawab, bahkan pada orang-orang terdekatnya karena memang dari kecil "otot" tanggung jawabnya tak terbentuk.
Peluang ketiga, menjadi lebih akrab. Interaksi orangtua dengan anak menjadi lebih intens saat pandemi (seharusnya). Betapa tidak, orangtua dan anak hampir bertemu tiap hari. Ada banyak waktu dan kebersamaan yang dapat diciptakan mulai dari sejak bangun pagi sampe menjelang tidur malam hari.
Bahkan saya sendiri berpikir, jangan-jangan pandemi ini dikirimkan oleh yang Menciptakannya untuk menyelamatkan bumi itu sendiri. Loh maksudnya?
Betapa banyak terjadi kerusakan di bumi karena ulah manusia sendiri. Kerusakan yang saya maksud bukan sekadar kerusakan alam, punahnya sebagian spesies hewan, udara menjadi lebih panas, es di kutub mencari. Bukan, bukan sekadar itu. Kerusakan yang saya maksud adalah bahwa antarspesies manusia sendiri terjadi kerusakan: perilaku manusia yang semakin buas terhadap sesamanya, amarah, kebencian, perpecahan, penyimpangan dan lainnya yang mungkin lebih hewan daripada hewan itu sendiri.
Percayalah makin bertambah usia bumi makin pula dahsyat kerusakannya jika manusia tidak berbenah. Ini terjadi karena tak sedikit anak-anak manusia yang dilahirkan ke muka bumi tidak dididik selayaknya manusia. Sebagian anak manusia makin ke sini jika kita periksa, makin dibesarkan hanya dengan cara-cara hewan: sekadar diberi makan dan tempat tinggal. Jika mereka hanya dibesarkan dengan cara hewan, maka wajarkan akhirnya makin banyak manusia kelak dewasa berperilaku seperti hewan.
Nah pandemi ini jangan-jangan dikirimkan agar makin banyak anak "disentuh" lagi oleh orangtuanya. Agar anak-anak manusia itu dapat lebih sering dipeluk, direngkuh lagi oleh orangtuanya. Agar anak-anak itu mendapat pengaruh lebih baik dan lebih banyak lagi dari orangtuanya. Agar anak-anak itu menjadi manusia seutuhnya dan bukan hewan seutuhnya.
Nah sekarang keputusan ada di tangan kita, apakah pandemi ini menjadikan makin jauh dengan anak-anak kita atau menjadi semakin dekat dengan anak-anak kita. The choise is yours.