Tidak ada larangan kita mengenal siapa saja. Allah menciptakan berbeda-beda itu sebuah keniscayaan. Kebhinekaan itu sebuah keniscayaan, tak usah diributkan. Kenal berbagai suku, bangsa, budaya berbeda, akan memberikan kekayaan berbeda pada pikiran kita. Tapi bersahabat atau berakrab dengan seseorang berdasarkan perilakunya, rasanya wajar kita memilih-memilih.
Istilah “sahabat” sendiri dapat bermakna “sahib” artinya menarik. Jadi sahabat bisa menarik orang lain ke dalam dirinya atau dirinya ke dalam orang lain, tarik menarik perilaku atau dapat saling mempengaruhi. Itu sebabnya anak remaja yang tidak merokok lalu bersahabat dengan tema-teman yang sebagian besar merokok misalnya, lama kelamaan dapat ikutan merokok, jika tidak kuat-kuat “iman.” Sebaliknya remaja yang jarang sholat berada di komunitas yang rajin sholat lama-kelamaan bisa saja ia berpeluang melaksanakan sholat.
Disinilah pentingnya kita membantu anak memilih zonasi pegaulan. Pernah dengar kan istilah zonasi sekolah? Meski mungkin zonasi sekolah itu penting tapi sesungguhnya zonasi pergaulan, tak kalah penting. Zonasi pergaulan itu maksudnya tentu bukan kita yang maksa-maksa anak memilih teman, tapi mengajaknya diskusi, berdialog panjang lebar tentang siapa yang pantas jadi teman dekat dan siapa yang tidak layak dijadikan teman dekat. Kita buat setidaknya 3 zona pergaulan dalam diskusi dengan anak: zona hijau, zona kuning, zona merah. Hijau boleh berteman dekat, kuning sekadar berteman tapi tak terlalu dekat dan merah hanya kenal tapi berteman dengannya. Apa saja indikator untuk setiap zona? Setiap keluarga boleh punya indikator sendiri berdasarkan nilai-nilai keluarga yang dipegang. Musyawarahkanlah dengan anak indikator-indikator itu. Dari segi perilaku saya mengusulkan kategorikan berdasarkan tingkatan perilaku dari paling baik, biasa dan perilaku buruk.
-abaihsan-